Selasa, 27 November 2012

Cegah Anak Idiot

JAKARTA - Deteksi dini pada bayi dapat mencegah terjadinya keterbelakangan mental seperti idiot yang disebabkan gangguan Hipotiroid Kongenital. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau para orang tua melakukan ‘screening’ (pemeriksaan) segera setelah bayi dilahirkan.

"Secara nasional, pemerintah tidak menyubsidi screening ini, tapi akan dipacu agar ini menjadi kebutuhan," kata Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Dr Budihardja dalam Seminar "Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental" di Jakarta, Rabu.

Pentingnya melakukan skrining itu disebut Budihardja karena gangguan Hipotiroid Kongenital yang dapat menyebabkan anak mengalami keterbelakangan mental dan menjadi idiot dapat dicegah dengan pengobatan yang sesuai.

Berdasarkan telaah rekam medis tahun 1995 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) terhadap 134 anak, lebih dari 70% penderita didiagnosis setelah umur satu tahun dan hanya 2,3% dapat dideteksi di bawah tiga bulan.

Sekretaris Unit Kelompok Koordinasi (UKK) Perinatologi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Indra Sugiarno menyebut adanya hasil penelitian bahwa anak penderita gangguan Hipotiroid Kongenital memiliki rata-rata angka Intelligence Quotient (IQ) sebesar 76.

Namun, jika dapat didiagnosis dalam usia 0-3 bulan dan diobati, persentase anak yang memiliki IQ di atas 85 meningkat menjadi 78%. Jika didiagnosis pada usia 3-6 bulan, persentasenya menurun hingga 19%. Bila didiagnosis pada umur lebih dari tujuh bulan, dinilai sudah terlambat dan tidak ada anak yang memiliki IQ di atas 85.

"Deteksi dini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur dua minggu, sebelum muncul gejala. Kalau ada gejala berarti sudah telat, dapat dikoreksi tapi tidak maksimal," ujar Indra.

Ia menyebut di negara-negara maju, skrining bagi keterbelakangan mental sejak bayi itu telah menjadi suatu hal yang umum karena banyak pemeriksaan yang tercakup dalam asuransi kesehatan orang tua. Sedangkan di Indonesia, salah satu kendalanya adalah masih mahalnya biaya pemeriksaan dan asuransi belum mengkover jenis layanan itu.

"Kalau memeriksa sendiri ke laboratorium, harganya memang mahal, sekitar 150-200 ribu, tapi jika dilakukan pemeriksaan secara masal, harganya bisa lebih murah, bisa jadi hanya Rp35 ribu perorang," ujarnya.

Sayangnya, hanya dua rumah sakit di Indonesia yang memiliki alat yang dapat melakukan skrining tersebut secara masal yakni RSCM dan RSHS sedangkan jika dilakukan di laboratorium swasta tidak bisa secara massal. (tk/ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar